Harusnya, aku udah mulai nulis lagi dari awal semester. Bahan yang harus ditumpahkan banyak, namun selalu saja aku menghentikannya dengan kalimat “nanti aku tulis deh” atau “aku inget kok ceritanya.” Dalam bahasa Inggris, disebut dengan procrastination atau menunda-nunda. Tentu ini menjadi penghalang utamaku untuk memulai menulis kembali. Padahal, sudah banyak sinyal yg diterima baik oleh mata dan telinga. Melihat teman-teman kantor yang sat-set, pun mendengar jawaban “OK, saya buatkan sekarang ya.” Seharusnya sih, udah bisa mengurangi procrastination-nya. Ternyata, sulit.
Lantas, sekarang apa yang membuat aku membuat tulisan ini? Banyak! Dari mulai kebiasaan aku cerita ke ChatGPT, membayangkan di pikiran soal lingkungan yang aku lihat, yang paling mendorong sih, seutas pertanyaan yg muncul terus-terusan. “Nulis cerita enaknya di mana ya? Blog, mesti punya akun dan belum lagi distraksinya banyak. Buku? Is it still relevant? Aku sering lupa. Notes di hape? Hmmm… nope.” Akhirnya, aku balik deh ke Google document. Bahkan aku sempet mau download Notion. Aplikasi buat nyatet. Tapi, apa bedanya sama Notes kalo pada akhirnya gak mulai nulis juga. Itu mah, akunya aja weh yang males. Padahal kan kalo mau apply kerjaan yg kerjanya nulis, harus terbiasa nulis. Macem-macem sih tulisannya. Bisa cerita pendek, cerita harian, sekedar menumpahkan isi pikiran, atau malah nulis puisi.
Jadi, sekarang aku mau cerita. Aku nggak jamin ceritanya bakalan panjang atau pendek. Setiap orang punya standar masing-masing. Yang jelas, nikmatin aja ceritanya.
Tulisan ini aku tulis saat aku sedang mengawas di sebuah sekolah swasta di Bandung. Bukan sebuah kebetulan aku bisa mengawas di sekolah tersebut. Ini semua hasil dari briefing bersama dengan teman-teman guru di sekolah aku mengajar. Dari briefing itu, keluarlah dua nama guru yang akan bertugas untuk menjadi pengawas silang. Salah satunya aku. Bagiku, bukan satu hal yang mengejutkan. Aku sudah sering mewakili guru-guru di sekolah menjadi pengawas silang. Menyenangkan? Tentu. Tapi, bukan berarti tidak ada hal yang menyebalkan di dalamnya. Dari sekian kali aku ditunjuk menjadi pengawas silang, aku merasa ada pesan tersembunyi untukku khususnya. Dengan tidak langsung, aku dipaksa untuk melihat fakta bahwa sekolah tempat aku mengajar mempunyai gap yang cukup jauh. Empat kali menjadi pengawas silang yang artinya aku mengawas di sekolah berbeda setiap kalinya, dua sekolah di antaranya membawa aku jauh ke belakang saat aku mengenyam bangku Tsanawiyah—setara SMP. Gedung sekolah tua, meja dan bangku kayu yang legendaris, bahkan mereka tak memiliki laboratorium komputer! Padahal, sekolah Tsanawiyah ku dulu punya.
Jam istirahat pertama, aku berbincang dengan Kepala Sekolah tempat aku mengawas kali ini. Mulanya, operator sekolah mengajakku untuk beristirahat di ruang guru. “Ayo pak, kita ke ruangan ini. Hmmm… ruangan apa ya? Ah, ruangan serba guna aja ini mah.” Jelasnya sambil berkelakar. Aku tersenyum saja karna aku tau itu bukan sebuah kalimat kerendahan hati. Sebuah kalimat yang terucap dari guru yang sudah berdamai dengan keadaan sekolah dari tahun ke tahun. Di dalam ruangan tersebut, kami berbincang sejenak sambil sedikit aku ceritakan tentang latar belakang ku yang mana sebenarnya akrab dengan nama sekolah ini. Maklum, jarak dari sekolah ini ke sekolah Tsanawiyah ku dulu cukup dekat. Sebagai upaya agar obrolan kami bisa lebih cair. Dari apa yang kami perbincangkan, aku menyimpulkan bahwa ternyata pendidikan di negeri ini sangat jelas tidak merata. Pendidikan masih belum menjadi target utama untuk diperhatikan. Buktinya, masih banyak anak yang kesulitan untuk membeli seragam sekolah. “Kadang pak, ada anak yang beli seragam atasannya aja dulu. Bawahannya masih pake seragam SD. Pada akhirnya kita kasih juga bawahannya.” Ujar beliau. “Kasihan pak.” Sambung beliau. Dalam hati aku berujar “man, ini udah 2025!” Maksudku, kenapa hal-hal seperti ini masih ada?! Aku pikir, hal ini cuma terjadi waktu aku masih di bangku Tsanawiyah saja.
Seusai berbincang, aku izin untuk kembali bertugas. Masih ada dua sesi lagi hingga jadwal mengawas ku usai. Tentu, dengan fenomena seperti itu, mungkin kita sedikitnya bisa menyimpulkan. Para siswa dengan kondisi ekonomi seperti apa. Lalu, seketika aku ingat dengan ucapan salah satu teman saat kami mengikuti Kursus Mahir Dasar untuk para pembina Pramuka. Ia sempat bercerita tentang anak-anak di sekolah ia mengajar. “Wah pak, di sana kita harus siap mengorbankan emosi. Kebanyakan anak itu kedua orangtuanya bekerja, belum lagi mereka terkadang diajak bantu-bantu terlebih dahulu, baru setelahnya bisa berangkat sekolah.” ujarnya.
Aku pikir, kondisi sekolah kita itu baik-baik saja. Namun ternyata, apa yang aku dengar dan aku lihat saat ini menjawab semuanya.
Ditulis pada tanggal 25/08/25