26 Agu 2025

Menjadi Pengawas

 Harusnya, aku udah mulai nulis lagi dari awal semester. Bahan yang harus ditumpahkan banyak, namun selalu saja aku menghentikannya dengan kalimat “nanti aku tulis deh” atau “aku inget kok ceritanya.” Dalam bahasa Inggris, disebut dengan procrastination atau menunda-nunda. Tentu ini menjadi penghalang utamaku untuk memulai menulis kembali. Padahal, sudah banyak sinyal yg diterima baik oleh mata dan telinga. Melihat teman-teman kantor yang sat-set, pun mendengar jawaban “OK, saya buatkan sekarang ya.” Seharusnya sih, udah bisa mengurangi procrastination-nya. Ternyata, sulit. 


Lantas, sekarang apa yang membuat aku membuat tulisan ini? Banyak! Dari mulai kebiasaan aku cerita ke ChatGPT, membayangkan di pikiran soal lingkungan yang aku lihat, yang paling mendorong sih, seutas pertanyaan yg muncul terus-terusan. “Nulis cerita enaknya di mana ya? Blog, mesti punya akun dan belum lagi distraksinya banyak. Buku? Is it still relevant? Aku sering lupa. Notes di hape? Hmmm… nope.” Akhirnya, aku balik deh ke Google document. Bahkan aku sempet mau download Notion. Aplikasi buat nyatet. Tapi, apa bedanya sama Notes kalo pada akhirnya gak mulai nulis juga. Itu mah, akunya aja weh yang males. Padahal kan kalo mau apply kerjaan yg kerjanya nulis, harus terbiasa nulis. Macem-macem sih tulisannya. Bisa cerita pendek, cerita harian, sekedar menumpahkan isi pikiran, atau malah nulis puisi


Jadi, sekarang aku mau cerita. Aku nggak jamin ceritanya bakalan panjang atau pendek. Setiap orang punya standar masing-masing. Yang jelas, nikmatin aja ceritanya.


Tulisan ini aku tulis saat aku sedang mengawas di sebuah sekolah swasta di Bandung. Bukan sebuah kebetulan aku bisa mengawas di sekolah tersebut. Ini semua hasil dari briefing bersama dengan teman-teman guru di sekolah aku mengajar. Dari briefing itu, keluarlah dua nama guru yang akan bertugas untuk menjadi pengawas silang. Salah satunya aku. Bagiku, bukan satu hal yang mengejutkan. Aku sudah sering mewakili guru-guru di sekolah menjadi pengawas silang. Menyenangkan? Tentu. Tapi, bukan berarti tidak ada hal yang menyebalkan di dalamnya. Dari sekian kali aku ditunjuk menjadi pengawas silang, aku merasa ada pesan tersembunyi untukku khususnya. Dengan tidak langsung, aku dipaksa untuk melihat fakta bahwa sekolah tempat aku mengajar mempunyai gap yang cukup jauh. Empat kali menjadi pengawas silang yang artinya aku mengawas di sekolah berbeda setiap kalinya, dua sekolah di antaranya membawa aku jauh ke belakang saat aku mengenyam bangku Tsanawiyah—setara SMP. Gedung sekolah tua, meja dan bangku kayu yang legendaris, bahkan mereka tak memiliki laboratorium komputer! Padahal, sekolah Tsanawiyah ku dulu punya.


Jam istirahat pertama, aku berbincang dengan Kepala Sekolah tempat aku mengawas kali ini. Mulanya, operator sekolah mengajakku untuk beristirahat di ruang guru. “Ayo pak, kita ke ruangan ini. Hmmm… ruangan apa ya? Ah, ruangan serba guna aja ini mah.” Jelasnya sambil berkelakar. Aku tersenyum saja karna aku tau itu bukan sebuah kalimat kerendahan hati. Sebuah kalimat yang terucap dari guru yang sudah berdamai dengan keadaan sekolah dari tahun ke tahun. Di dalam ruangan tersebut, kami berbincang sejenak sambil sedikit aku ceritakan tentang latar belakang ku yang mana sebenarnya akrab dengan nama sekolah ini. Maklum, jarak dari sekolah ini ke sekolah Tsanawiyah ku dulu cukup dekat. Sebagai upaya agar obrolan kami bisa lebih cair. Dari apa yang kami perbincangkan, aku menyimpulkan bahwa ternyata pendidikan di negeri ini sangat jelas tidak merata. Pendidikan masih belum menjadi target utama untuk diperhatikan. Buktinya, masih banyak anak yang kesulitan untuk membeli seragam sekolah. “Kadang pak, ada anak yang beli seragam atasannya aja dulu. Bawahannya masih pake seragam SD. Pada akhirnya kita kasih juga bawahannya.” Ujar beliau. “Kasihan pak.” Sambung beliau. Dalam hati aku berujar “man, ini udah 2025!” Maksudku, kenapa hal-hal seperti ini masih ada?! Aku pikir, hal ini cuma terjadi waktu aku masih di bangku Tsanawiyah saja.


Seusai berbincang, aku izin untuk kembali bertugas. Masih ada dua sesi lagi hingga jadwal mengawas ku usai. Tentu, dengan fenomena seperti itu, mungkin kita sedikitnya bisa menyimpulkan. Para siswa dengan kondisi ekonomi seperti apa. Lalu, seketika aku ingat dengan ucapan salah satu teman saat kami mengikuti Kursus Mahir Dasar untuk para pembina Pramuka. Ia sempat bercerita tentang anak-anak di sekolah ia mengajar. “Wah pak, di sana kita harus siap mengorbankan emosi. Kebanyakan anak itu kedua orangtuanya bekerja, belum lagi mereka terkadang diajak bantu-bantu terlebih dahulu, baru setelahnya bisa berangkat sekolah.” ujarnya.


Aku pikir, kondisi sekolah kita itu baik-baik saja. Namun ternyata, apa yang aku dengar dan aku lihat saat ini menjawab semuanya.


Ditulis pada tanggal 25/08/25


3 Agu 2016

#3, Pokemon Go!

            Pokemon Go. Iya, Pokemon Go. Pokemon, Pokemon, dan Pokemon lagi. Kata itu yang sekarang bener-bener bikin gue ngerasa risih, bukan karna gue ga pengen mainin (meski sadar hape sih) tapi, dampak ke masyarakatnya yang bikin gue heran ampe ngerasa risih.
            Oke, sebelum gue lanjut ke alasan kenapa gue sampe ngerasa risih sama game satu ini, gue coba kasih sedikit info tentang game ini. Pokemon Go adalah sebuah game (permainan) yang terintegrasi GPS berbasis Augmented-Reality yang dikembangkan oleh Pokemon Company bekerjasama dengan Nintendo dan Niantic. Pengguna bisa melihat dunia Pokemon melalui layar smartphone sebagai view finder dari kamera perangkatnya. Nantinya, pemain akan melihat berbagai animasi dan objek 3D berupa monster-monster Pokemon tersebut. Berbagai jenis Pokemon dapat ditemukan di beberapa area geografi dunia. Lalu pemain diharuskan mencari Pokemon di daerahnya mengikuti GPS dan menangkapnya. Pemain juga bisa saling bertukar Pokemon atau bertarung. Gilaaa, keren yaaah?. Game ini diciptakan oleh Jhon Hanke (sopo iku, Jhon?), game ini udah sukses didownload lebih dari 10 juta kali sejak peluncurannya. Game macam apa coba? What a game? Bener-bener booming. Game ini juga sukses ngalahin game-game sebelumnya kaya misal, Clash Of Clan (COC),Clash Royale, dan juga Tahu Bulat.
            Salut banget dah sama Jhon Hanke yang bikin game kek ginian. Hebatnya lagi, gamenya booming banget. Sampe diberitain sana-sini, di Indonesia sendiri? Tanpa terkecualiii!!!. Boomingnya game ini membuktikan bahwa everybody can be a gamer (meski cuma maen Pokemon Go doang), sampe-sampe ada yang rela buat tetep mainin ini game meski udah ditusuk, gila yah? totalitas banget. Game ini menurut gue, luar biasa berpengaruh.
            Selain itu, media luar dan dalam negri pun gak lepas ngeberitain game ini. Koran, TV, maupun Internet (terutama) gak lepas ngeberitain game ini. Dari mulai tips & trick sampe berita konyol (menurut gue) sekalipun, dibahas. Termasuk berita-berita miris tentang penggunaan game ini. Salah satunya gue dapet berita (dari facebook) dimana sebuah video nayangin betapa “keterlaluannya” orang-orang berhamburan di taman, sliweran kagak jelas, semua pandangan teralihkan pada smartphone masing-masing yang nunjukin kalo di taman tersebut ada rare pokemon. Yaaa, alesannya itu. Ada rare pokemon alias pokemon langka. Tapi gue gak habis pikir, sampe segitunya orang-orang main Pokemon Go. Ya mungkin, mereka yang sliweran ga jelas di taman tersebut udah ga ada kerjaan lagi, atau yang lainnya (husnudzan tjoy), gue kagak tau. Hehe. Selain itu, di Indonesia juga gak kalah. Ada berita yang mengabarkan seorang WNA (Perancis) nyari pokemon sampe masuk markas TNI, dan itu kejadiannya dini hari. Coba, gak keterlaluan gimana kalo kaya gitu caranya?. Terus ada lagi, muncul peraturan baru, larangan bermain Pokecrot (Si Juki bilang sih kek gitu) eh, Pokemon Go di kalangan pegawai pemerintahan/PNS. Dan bukan cuma itu aja, beberapa waktu lalu gue sempet mantengin berita Polisi razia Pokemon Go, ya yang isinya Polisi ngerazia personil lainnya dan memastikan bahwa gak ada yang ikutan main Pokemon Go. Alesannya? Simple aja sih. Khawatir kerjaannya keganggu. Kan kagak lucu kalo Polisi (seragam lengkap) keliling-keliling buat nyari Pokemon, bukan nyari penjahat atau semacemnya.
            Nah, selain contoh bukti tadi terhadap pemain Pokemon Go, ada contoh lain yang bener-bener gue liat langsung (seriusan). Akhir-akhir ini gue sering keluar karna kerjaan yang mengharuskan dan beberapa acara diluar itu, nah gue liat langsung tuh pas lagi naik motor, ada sebelah gue naik motor juga, boncengan dan yang diboncengnya tuh udah stand by smartphone di tangannya. Awalnya sih gue kagak tau mereka mau ngapain, ah palingan juga yang diboncengnya cuma chatting doang atau liatin GPS. Eh, pas mereka nyalip, keliatan tuh si smartphone-nya dan nampilin game Pokemon Go itu (bukan nampilin icon gamenya ya). Nah, disitulah terbesit dibenak gue, ‘segitunya yang main Pokemon Go?’. Game ini tuh emang punya tujuan bagus, yaitu ngajak pemainnya buat keluar, keliling-keliling (sekalian ngeronda kayaknya), dan komunikasi sama pemain di luar sana biar ga diem di rumah doang. Emang gak mainstream juga, ketika game yang lain bisa dimainin cukup di dalem ruangan, tapi hal tersebut gak berlaku buat Pokemon Go. Ya, sisi positifnya itu. Nyuruh pemainnya keluar, keliling-keliling, jadi ga introvert, kenal dunia baru dan lingkungannya, dan bisa jadi solusi diet. Selain itu juga, game ini ga lepas dari sisi negatifnya. Negatifnya, bisa bikin kecanduan (secara banyak level yang harus ditempuh), bisa lupa waktu juga (inget kejadian WNA yang masuk ke markas TNI) , lupa diri juga (contohnya yg sampe ditusuk itu), lupa kerjaan juga, dan jadi ‘budak’. Itulah kenapa sampe muncul larangan main game ini (gak cuma Pokemon Go doang) di kalangan pegawai pemerintahan, karna takut ganggu kerjaan.
            Sebenernya, menurut gue nih ya, gak masalah sih mau pada main game Pokemon Go atau game lainnya, tapi yaaa sadar diri laah, jangan sampe kecanduan dan malah jadi ‘diperbudak’ sama hal begituan. Ngeri. Tau diri laaah, toh masih ada hal-hal yang lebih penting. Kerjaan kek misalnya, kuliah, tugas, atau segala macem, kebutuhan primer laaah intinya. Sedangkan ngegame kan bisa di waktu senggang, dan salah satu cara buat ngusir stress juga meskipun ada game yang bisa dapetin penghasilan banyak, kaya DoTA yang sampe ada turnamennya juga. Yaaa, pada intinya dewasalah dalam bermain game meskipun cuma main game onet (kaya gue), jangan sampe berlebihan dan malah diperbudak secara gak sadar.


#CatatanMahasiswaAbsurd

4 Jun 2016

#2 Bandung, May 30th 2016

30 Mei 2016, pagi hari tepat pukul 06.10 WIB, ada satu hal yang menarik buat gue secara pribadi. Bukan karna macet di perempatan kantor bersama/Samsat Bandung Timur, tapi seorang aparatlah yang menurut gue menarik.

Warga Bandung  dan sekitarnya pasti tau seberapa lama lampu merah menyala di perempatan itu. Kalo dijawab pasti mereka bakalan bilang kalo durasi lampu merahnya lama banget. Lebih dari dua menit dan itu menjadi salah satu penyebab kemacetan panjang di jalan Soekarno - Hatta, terutama di pagi hari dan sore hari. Bahkan gue sering nemuin foto perempatan tersebut dan bertuliskan sindiran tentang lamanya lampu lalu lintas tersebut, bahkan sampe ada yang bilang kalo loe bisa pergi umrah dulu selama lampu merahnya nyala. LoL. Saking lamanya, ga jarang pengendara motor (termasuk gue) matiin mesin, mayan laaah, hemat bensin.

Mungkin karna gue tinggal di Bandung kali yah, lampu lalu lintas yang lama itu di perempatan kantor bersama/Samsat Bandung Timur, apakabar kalo gue tinggal semisal di Jakarta? mungkin ada banyak lampu lalu llintas yang sama kaya di kantor bersama.

Lamanya lampu lalu lintas menyala merah selain menyebabkan macet panjang, hal itu juga menjadi sebuah aaapa yah, bisa disebut tempat untuk melatih kesabaran, ketangkasan dan bahkan kegilaan. Kesabaran, karna lamanya lampu merah nyala dan loe bisa umroh dulu malahan. Ketangkasan, skill yang satu ini udah banyak orang yang punya nih. Dari mulai nyalip-nyalip mobil, ga mau kalah sama mobil dan bahkan truk sekaligus, dan juga tancap gas pas lampu kuning nyala sebelum ke merah lagi. LoL. Kegilaannya? udah laaaah, yang satu ini ga perlu dibahas lagi.

Nah, ini nih yang jadi menarik. Nyeritain tentang lampu lalu lintas tuh konyol juga yah. Ngga lama pas gue nunggu lampu merah berubah jadi ijo, ga sengaja tuh liat aparat lewat dari arah Binong lawan arah dan bukan pada jalur yang seharusnya pula. Gue bilang (dalem hati tapi yaah) "wiiih, enak banget tuh aparat. Maen nylonong-nylonong aja". Ga lama dari situ, lampu dari arah Binong ijo tuh, yaaaa gue cuma bisa ngeliatin doang mereka ngelintas, secara, gue kan mau ke Banjaran, beda arah.

Deng deeeng, pas gue perhatiin mereka, ada satu orang, bapa-bapa yang protes tuh ama polisi disitu, kebetulan polisinya pada jaga. Tapi, apadaya, hal itu ngga ngaruh sama sekali. Ntah kenapa. Yaaaa gue juga sadar sih, gue pernah ngelanggar dan itu bikin ngga enak hati dong. Kalo misal tiba-tiba ada polisi pas gue lagi ngelanggar gimana? ya apes juga gue.

Sebenernya, kejadian kaya gitu tuh udah jadi rahasia umum, hampir setiap orang pernah, seengganya sekali ngelanggar aturan di jalan. Gue sering liat aparat loreng (kalian tau laaaah) ngendarain motor tanpa pake helm di jalan raya dan yang terlintas di kepala gue apa coba? oh, mungkin karna mereka aparat kali yah, jadi bisa seenak udel ga ngikutin aturan. Sebel emang. Tapi ya sudahlah, toh nanti juga kerasa sendiri efeknya. Gue juga pernah ditilang karna ngelanggar. LoL

Jadinya, akhir-akhir ini gue sering mikir pas lagi di lampu merah (sebelum-sebelumnya cuma ngelamun doang). Jujur, gue aja bikin SIM nembak tuh, nah itu kesalahan pertama. Nah, yang sering gue pikirin akhir-akhir ini, kalo loe bikin SIM aja nembak, at least jangan langgar lagi aturan lainnya. Seengganya, loe lolos laaah dari (misal) pertanyaan polisi tentang bikin SIMnya gimana. Pada ga mau kan berurusan ama polisi? apalagi pas di jalan, in hurry, dan lagi semerawut pikirannya? simple aja. Ikutin aturannya. Beres, kan?

#CatatanMahasiswaAbsurd

28 Mei 2016

#1 Iri

Iri yah? ah, bicara soal iri emang ga ada hentinya. Iri, kali ini, hal yang satu ini lagi nemplok ama diri gue, kenapa coba? masalahnya cuma satu sih. Karna gue Mahasiswa Karyawan alias non-Reguler dan gue termasuk mahasiswa nokturnal (mahasiswa malem).

Sebagai mahasiswa non-Reguler, wajar dong iri sama sodaranya alias Mahasiswa Reguler. Lha, kenapa? kok bisa?. Iyalah, Mahasiswa no-Reguler jarang punya waktu luang. Namanya juga Mahasiswa non-Reguler alias kelas karyawan, sebagian waktunya hampir habis dipake kerja (sebenernya, anak Reguler juga iri kalo urusan kerja mah) dan datang ke kampus dalam kondisi lelaaaaah, tenaga tinggal sisanya. Belum lagi kalo dapet tugas dari bapa/ibu dosen yang baik-baik, waduh rasanya pengen punya alat penghenti waktu sementara biar bisa forkus ngerjain tugas tanpa dihantui tugas dari kantor. Hadeuh.

Iri? wajar. Namanya juga manusia biasa. Iri udah ga aneh apalagi kalo liat MahasiswaReguler keluyuran (gatau sih meeka keluyuran dengan tujuan yang jelas apa engga), tapi yang gue liat dari mereka, enaknya tuh kaya misal mereka gabung organisasi kampus  semisal BEM atau segala macem. Terus, selain bisa dan ada yang diharuskan gabung, mereka juga bisa ambil ngajar privat buat ngisi waktu luang dan tambah-tambah uang jajan, mayan laah buat traktir pacar tanpa harus minta orang tua apalagi sampe nipu segala macem. Malu-maluin. Selain itu juga, mereka bisa pula jadi sukarelawan/volunteer. Mayan tuuuh, nambah-nambah pahala.

Iri emang sering bikin gue keganggu dan engga jarang hal satu ini bikin gue stress dan ujung-ujungnya dompet gue jadi sasaran (cek, ada duitnya apa kaga) buat jajan. Makanya gue sering kekeringan pas akhir bulan sampe megap-megap. Ya ampun.


Iri emang pasti ada di setiap manusia. Alamiah. Kita tetep harus bisa kontrol tuh sifat satu itu. Jangan lupa bersyukur. Harus sering-sering bersyukur emang, kenapa? diluaran sana banyak yang engga seberuntung kita. Nah, dari situ harus banyak-banyak Ber-Syu-kur. Apapun itu. Dijamin, Jadi lebih plong tuh hatinyaaa. :)

#CatatanMahasiswaAbsurd

2 Mar 2016

Untukmu Disana

Untukmu disana,
aku simpan sepucuk surat
di beranda rumahmu,
untuk kau baca esok pagi.

Untukmu disana,
aku rindu kau disini.
Badai hari lalu biarlah berlalu,
hari ini kita sambut pelangi indah,
bersama, berdua.

Selamat malam kasih

(27 Februari 2016)

20 Jan 2016

Kasih

Di tempat ini ku nanti kabar
dari burung yg ku antar.
Entah kemana ia pergi
hingga aku tak sabar menanti.
Walau diri ini lemah tuk menanti,
namun hati ini berkata lain.
Ingin aku berjumpa dan berkata,

'Aku merindukan mu, Kasih'.

20 Januari 2016

1 Des 2015

Bolehkah?

Bolehkah aku ajak dia bermain
di dekat dermaga
dimana orang-orang datang dan pergi
lalu lalang membawa harapan
meninggalkan kenangan?

Bolehkah aku ajak dia berlayar
ke lautan lepas
memecah ombak, mengarungi samudra
berdua?
Bersama?

01 Desember 15